Showing posts with label EUROPE. Show all posts
Showing posts with label EUROPE. Show all posts
Stonehenge, English Heritage
Prehistory

Who are we? Where do we come from? Where are we going? These are three of the most universal questions. They are about time and the nature of the human condition.

Siapakah kita? Dari mana kita berasal? Dimana kita akan pergi? Ini adalah tiga pertanyaan yang paling umum. Yaitu tentang waktu dan kondisi dari sifat manusia.

Works of art help us to answer these questions. We will begin our exploration of the arts by going back in time to early periods of human history, before the existence of written documents, which we call prehistory. But the term prehistory is a misnomer because objects and images are actually historical records. The challenge lies in discovering how to read them.

Karya seni membantu kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Kita akan mulai dari eksplorasi seni dengan kembali pada waktu periode awal sejarah manusia, sebelum adanya dokumen tertulis, yang kita sebut prasejarah. Tapi prasejarah menjadi sebuah ironi karena kurangnya pemahaman objek dan gambar mengenai catatan sejarah. Tantangannya terletak pada menemukan cara untuk membacanya.

The appearance of anatomically modern humans in Europe about 35,000 bce was accompanied by major changes in culture and technology. There was a further period of significant change after the last major Pleistocene glaciation (the Pleistocene Epoch occurred from about 2,600,000 to 11,700 years ago), which included the widespread adoption of farming and the establishment of permanent settlements from the 7th millennium bce. These laid the foundation for all future developments of European civilization (Jacques Barzun, 2013)[1].

Munculnya manusia modern secara anatomis di Eropa sekitar 35.000 SM bersamaan dengan perubahan besar dalam budaya dan teknologi. Ada jangka waktu perubahan signifikan setelah akhir masa Pleistosin (Pleistocene Epoch terjadi dari sekitar 2.600.000 sampai 11.700 tahun yang lalu), yang termasuk adopsi pertanian dan pembentukan pemukiman permanen dari milenium ke-7 SM. Ini menjadi dasar semua perkembangan masa depan peradaban Eropa (Jacques Barzun, 2013).

The Stone Age


Stone Age Scene With Hunters - Illustrations
To organize the vast time span of prehistory, scholars divide the Stone Age in Europe into three periods. Paleolithic (from the Greek palaios, meaning “old,” and lithos, meaning “stone”) is the earliest and the longest. It lasted from c. 1,500,000 B.C. to c. 8000 B.C. The Mesolithic (“middle stone”) period extended from around 8000 to 6000 B.C. in southeastern Europe and c. 8000 to c. 4000 B.C. in the rest of Europe. The Neolithic (“new stone”) period dates from c. 6000/4000 B.C. to c. 2000 B.C. and continued for another thousand years in Europe. The designation of these periods as Stone Age derives from the use of stone tools and weapons. As technology developed, metal would eventually replace stone for many purposes. Then, as now, technological and social change went hand in hand, bringing the Stone Age to a gradual close.

Untuk mengatur rentang waktu prasejarah yang panjang, sejarawan membagi Zaman Batu di Eropa menjadi tiga periode. Paleolithikum (dari kata palaios bahasa Yunani, yang berarti "tua," dan lithos, yang berarti "batu") adalah masa paling awal dan terlama. Paleolithikum berlangsung dari 1.500.000 SM - 8000 SM. Mesolithikum ("Batu tengah") periode diperpanjang dari sekitar 8000 sampai 6000 SM di Eropa Tenggara dan c. 8000 sampai 4000 SM di seluruh Eropa. Neolithikum ("Batu Baru") periode berasal dari 6000/4000 SM 2000 SM dan berlangsung selama seribu tahun di Eropa. Penunjukan periode Zaman Batu ini bersumber dari penggunaan alat-alat dan senjata yang terbuat dari batu. Perkembangan teknologi, pada akhirnya logam menggantikan batu untuk berbagai tujuan. Lalu, seperti sekarang, teknologi dan perubahan sosial beriringan, membawa Zaman Batu ke tahap berikutnya.

Paleolithic (c. 1,500,000–c. 8000 B.C.)

By around 50,000 B.C. in Europe, our own subspecies, Homo sapiens sapiens (literally “wise wise man”), had supplanted Homo sapiens, who had developed complex cultures. We can gain some understanding of Paleolithic society by interpreting the physical record. But becauseideas cannot be fossilized, there is much that will never be known.

Sekitar 50.000 SM di Eropa, subspesies kita sendiri, Homo sapiens sapiens (yaitu "orang bijak bijaksana"), telah digantikan Homo sapiens, yang telah mengembangkan budaya yang kompleks. Kita bisa mendapatkan beberapa pemahaman masyarakat Paleolithikum dengan menafsirkan catatan fisik. Tapi karena pemikiran tidak dapat membatu, ada banyak hal yang tidak akan pernah diketahui.

Inferences about Paleolithic religion have been drawn from ritual burial practices. Red ocher—possibly symbolizing blood—was sprinkled on corpses, and objects of personal adornment (such as necklaces) were buried with them. Bodies were arranged in the fetal position, often oriented toward the rising sun, which must have seemed reborn with each new day. Such practices suggest belief in life after death and offer some insight into the way Paleolithic people answered the third question posed at the start of this chapter: Where are we going?

Kesimpulan tentang kepercayaan masa Paleolithikum mengenai ritual penguburan. Red ocher -mungkin melambangkan darah- memercik ke mayat, dan barang miliknya perhiasan (seperti kalung) dikuburkan dengan mayatnya. Mayat diatur dalam posisi janin, sering berorientasi pada matahari terbit, harus tampak terlahir kembali di setiap hari baru. Praktek-praktek seperti ini menunjukkan keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian dan memberikan jawaban tentang cara orang Paleolithikum menjawab Pertanyaan ketiga yang diajukan pada awal bab ini: Kemana kita akan pergi?

Fire 
Paleolithic people were nomadic hunters and gatherers, who lived communally. They built shelters at cave entrances, under rocky overhangs. Their tents were made of animal skins and their huts of mud, plant fibers, stone, and bone. Fire had been in use for some 600,000 years, and there is evidence of hearths in Paleolithic homes.

Orang Paleolithik adalah pemburu dan pengumpul nomaden, yang hidup secara komunal. Mereka membangun tempat penampungan di pintu masuk gua, di bawah overhang berbatu. Tenda mereka dibuat dari kulit binatang dan gubuk-gubuk mereka terdiri dari lumpur, serat tanaman, batu, dan tulang. Api telah digunakan sekitar 600.000 tahun, dengan bukti dari tungku di rumah Paleolitik.

Although the invention of writing was still far off, people made symbolic marks on hard surfaces, such as bone and stone, possibly to keep track of time. The sophistication of Paleolithic art suggests that language —the ability to communicate with words and tell stories— had also been developed, and language in itself requires a sense of sequence and time.

Meskipun penemuan tulisan itu masih jauh, orang membuat tanda simbolis pada permukaan keras, seperti tulang dan batu, mungkin untuk melacak waktu. Kecanggihan seni Paleolitik menunjukkan bahwa bahasa -kemampuan untuk berkomunikasi dengan kata-kata dan cerita- juga telah dikembangkan, dan bahasa itu sendiri membutuhkan selera urutan jenis dan waktu.

The earliest surviving works of Western art correspond roughly to the final stages of the Ice Age in Europe and date back to about 30,000 B.C. Before that time, objects were made primarily for utilitarian purposes, although many have aesthetic qualities. It is important to remember, however, that our modern Western concept of “art” would almost certainly have been alien in the Stone Age, when an object’s aesthetic value was inseparable from its function.

Karya-karya yang masih bertahan paling awal seni Barat sesuai kira-kira pada akhir Zaman Es di Eropa yaitu sekitar 30.000 SM. Sebelum waktu itu, benda-benda yang dibuat terutama untuk suatu tujuan, juga banyak memiliki kualitas keindahan. Hal ini penting untuk diingat, bagaimanapun, bahwa konsep modern Barat mengenai "seni" akan hampir pasti hasil alien di Zaman Batu, ketika nilai keindahan suatu objek tidak dapat dipisahkan dari fungsinya.





[1] Jacques Barzun. 2013. History of Europe. http://www.britannica.com/, diakses 10 Januari 2014. 
Kreta Kuno
Masyarakat Yunani kuno memiliki sejumlah legenda mengenai Kreta. Yang paling terkenal menceritakan raja Kreta bernama Minos mengenai hewan peliharaanya Minotaur (manusia berkepala kerbau) yang ditempakan di labirin pulau itu. Arsitek bangunan labirin ini, Daedallus. Setelah mengalahkan Athena dalam perang, Raja Minos memutuskan bahwa setiap tujuh tahun, tujuh anak laki-laki dan tujuh perempuan Athena akan dikirim ke labirin untuk dikorbankan untuk dimakan Minotaur. Pada putaran ketiga siklus pengorbanan ini, Theseus (Raja masa depan Athena) mengajukan diri untuk pergi ke Kreta dan membunuh Minotaur. Theseus dibantu oleh Ariadne (putri Raja Minos), yang memberinya bola benang (sebagai pedoman) untuk menemukan jalan keluar dari labirin. Ariadne juga memberikan pedang, dan petunjuknya adalah untuk selalu berjalan maju, turun, dan tidak pernah ke arah kiri atau kanan. Ketika, Theseus berjalan ke pusat labirin, dia tersandung batu dan membangkitkan Minotaur dari tidurnya, dan mulailah pertempuran berdarah. Di mana ia akhirnya menang dengan menggorok tenggorokan binatang itu. Ada beragam legenda tentang Raja Minos, dan masyarakat Yunani kuno memutuskan bahwa mereka semua tidak bisa menunjuk pada orang yang sama, sehingga mereka berasumsi bahwa ada banyak raja bernama Minos yang telah memerintah Kreta.

Lukisan dinding "Lompat Banteng", ditemukan di situs Knossus, menunjukkan bahwa terdapat suatu olah raga atau ritual keagamaan melompati seekor banteng, figur manusia berkulit gelap adalah lelaki, sedangkan yang berkulit terang adalah perempuan.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Minoa)
Selain mitos-mitos kuno ini, bagaimanapun peradaban Minoa telah lama dilupakan, sampai arkeolog Inggris Sir Arthur Evans menemukan kembali pada dekade pertama abad kedua puluh. Evans menemukan reruntuhan istana Knossos setelah ia membeli reruntuhan dan menyewa sebuah tim untuk menggali. Evans pada awalnya percaya bahwa ini adalah istana mitologis raja Minos, tetapi pada kenyataannya terdapat struktur yang kompleks terdiri dari pusat-pusat pemerintahan, kuil, kamar kerja, dan fasilitas penyimpanan.

Vas dengan motif gurita yang khas, 1500 SM
(http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Minoa)
Masyarakat Pulau Kreta nampaknya meniru cara-cara yang dipakai orang-orang Mesir. Mereka menghasilkan karya-karya yang mengagumkan. Karya-karya tersebut berupa tembikar/porselin/gerabah untuk menyimpan minyak zaitun. Seni lukis fresko (lukisan cat air) berupa raja, pahlawan perang pada dinding istana Knossus. Seni pahat pada gading atau media lain dan seni kerajinan logam. Karya seni ini juga menghasilkan peralatan rumah tangga, misalnya alat pertukangan, sepatu, pengecoran logam, dll. Mereka juga membuat patung-patung kecil yang indah sekali dengan bentuknya seperti Dewi Ular yang dadanya telanjang yang nampaknya merupakan salah satu obyek untuk pemujaan.

"Dewi Ular" atau pendeta wanita tengah melakukan ritual.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Minoa)
Peradaban Kreta yang kaya dan mewah itu akhirnya pada abad ke-14 SM, dihancurkan oleh suku-suku bangsa barbar yang berasal dari Eropa bagian tengah dan timur. Suku-suku ini dikenal dengan bangsa Hellena yang kelak membentuk bangsa Yunani. Para penyerbu ini telah menggunakan senjata-senjata dari besi.


Benih-benih peradaban Yunani berasal dari Kreta ini. Pada masa-masa akhirnya, kebudayaan Minoa meluas ke pulau-pulau Laut Aegea. Kebudayaan yang menyebar ini dikenal pula dengan sebutan “Mysenean” yaitu menurut nama tempat di daratan Yunani Mysene. Lalu, karena letak Kreta tidak saja dekat dengan Yunani tetapi juga Mesir, maka peradaban Kreta ini menjadi suatu mata rantai penghubung antara Mesir kuno dan Yunani klasik.

Lambang yang tidak diketahui maknanya pada Cakram Phaistos
(http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Minoa)
Bangsa Kreta mengenal tulisan tetapi sampai sekarang belum berhasil dibaca. Hanya dari peninggalan puing-puing bangunan dan benda-benda lain, kita mendapat gambaran umum tentang kehidupan orang-orang Kreta. Dari penggalian arkeologi istana di Knossus, tampak  bahwa interior istana tersebut dihias indah, yang menunjukkan cita rasa seni yang tinggi dan halus dari para pembuatnya. Rumah-rumah mempunyai beberapa tingkat, ruangan yang luas, lantai-lantai yang berubin serta suatu sistem pengeringan yang menakjubkan. Kehidupan menjadi mewah dengan berkembangnya seni hias emas dan perak, serta cita rasa seni tampak pada dekorasi fresko pada interior, mebel, keramik dan benda-benda lain yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa Kreta menggemari olah raga atletik seperti lomba lari, tinju dan tari. Tampaknya wanita mendapat perlakuan yang sama dengan pria. Agama mereka berupa pemujaan kepada seorang dewi kesuburan yang dipuja sebagai sumber kebaikan dan kejahatan.

Teori Runtuhnya Peradaban Kreta[4]
Letusan gunung berapi di pulau Thera (kini Santorini terletak sekitar 100 km dari Kreta) terjadi pada periode Minoa Akhir. Letusan ini merupakan salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah peradaban manusia, melontarkan sekitar 60 km3 material dan terukur skala 6 pada Volcanic Explosivity Index. Letusan ini meluluh-lantakkan permukiman Minoa didekatnya di Akrotiri di pulau Santorini, yang terkubur batu apung. Diduga letusan hebat yang berdampak kepada runtuhnya peradaban Minoa ini merupakan dasar peristiwa yang mengilhami mitos Atlantis, legenda yang sampai ke Yunani melalui perantara catatan Mesir.

Lebih lanjut dipercaya bahwa letusan ini berdampak parah bagi kebudayaan Minoa, meskipun sejauh mana dampaknya masih diperdebatkan. Teori mengajukan bahwa guguran hujan abu dari Thera telah mematikan tanaman di separuh sebelah timur pulau Kreta, menyebabkan bencana kelaparan yang menimpa penduduk setempat. Akan tetapi setelah penelitian lebih lanjut, teori kurang dapat dipercaya karena lapisan endapan debu vulkanik di Kreta tidak lebih dari 5 mm(0.20 in). Penelitian mutakhir menunjukan, berdasarkan bukti arkeologi di Kreta, bahwa tsunami besar yang ditimbulkan oleh letusan gunung Thera, menyapu kawasan pesisir Kreta dan menghancurkan permukiman di tepi pantai. 

Temuan Minoa yang signifikan di atas lapisan abu vulkanik Thera, menunjukkan bahwa letusan Thera tidak serta merta meruntuhkan peradaban Minoa. Karena bangsa Minoa adalah bangsa pelaut yang bergantung pada armada kapal dagangnya, letusan Thera menyebabkan kesulitan bagi Minoa. Apakah dampak ini cukup untuk memicu keruntuhan peradaban ini, masih tetap diperdebatkan. Penaklukan bangsa Mikenai atas bangsa Minoa terjadi pada kurun Minoa Akhir II. Bangsa Mikena adalah peradaban berlandaskan militer. Tak lama setelah letusan gunung berapi, arkeolog menduga bahwa letusan ini menimbulkan krisis atas peradaban Minoa yang memungkinkan bangsa Mikenai menaklukkan mereka dengan mudah.

Sinclair Hood menulis bahwa kehancuran minoa sangat mungkin akibat serbuan bangsa asing dari luar. Meskipun perkembangan peradaban ini terhenti akibat bencana alam letusan gunung berapi Thera, pukulan paling berat datang dari penakluk asing. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa kerusakan situs si pulau ini paling banyak karena kebakaran. Hood mencatat bahwa istana Knossos paling utuh tersisa dan paling sedikit kerusakannya dibandingkan situs lain di pulau Kreta. Karena bencana alam tidak memilih-milih sasaran, maka sangat mungkin kehancuran peradaban Minoa adalah akibat serbuan pihak asing, karena penakluk asing ini kemungkinan menggunakan istana Knossos. Sekitar 1420 SM, pulau Thera ditaklukkan oleh Mycenaean. Setelah ini, sebagian besar kota Crete dan kerajaannya mengalami kemunduran. Tapi Knossos tetap berlanjut hingga 1200 SM. Ada bukti bahwa perdagangan runtuh, dan penduduk kota-kota di peradaban kuno Minoan mati karena kelaparan. Pasokan gandum Minoans menipis yang diyakini berasal dari peternakan di tepi Laut Hitam. Banyak sejarawan percaya bahwa pusat perdagangan kuno saat itu berada dalam masa kritis dari perdagangan yang tidak ekonomis, makanan dan kebutuhan pokok yang bernilai tinggi dan dan dianggap barang mewah. Salah satu teori runtuhnya peradaban kuno Minoan menyatakan adanya peningkatan penggunaan alat-alat besi oleh pedagang Minoan.

Beberapa penulis lain menyebutkan bahwa peradaban Minoa telah berkembang melebihi batas daya dukung lingkungannya. Misalnya bukti arkeologi di Knossos menunjukkan telah terjadinya penebangan dan kerusakan ekosistem hutan.


Daftar Pustaka:
Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa (Dari Eropa Kuno hingga Eropa Modern). Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Noname. Tanpa tahun. The Rise and Fall of
Civilization. http://faculty.citadel.edu/frank.karpiel/class04riseandfall.pdf, diakses 22 Februari 2014.
Mackanzie, D. A., 1917. Myths Of Crete & Pre-Hellenic Europe. London: The Gresham Publishing Company Limited
Sumobroto, Sugihardjo., & Budiawan. 1989. Sejarah Peradaban Barat Klasik dari Prasejarah hingga Runtuhnya Romawi. Yogyakarta: Liberty.



[1] http://www.youtube.com/watch?v=Jz3d5x-MUT4, Ancient Minoan Civilization, diakses 18 Februari 2014.
[2] Labyrinth (labirin) berasal dari kata labrys yang berarti mudah tersesat.
[3] Epos Yunani dalam bentuk puisi yang menceritakan tentang kemarahan pahlawan yang bernama Achilles selama pengepungan kota Troya dalam Perang Troya.
[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Minoa, diakses 18 Februari 2014.


Video youtube yang berjudul Ancient Minoan Civilization[1] ini mendeskripsikan tentang peradaban Minoa melalui lirik dari musik cover band Radiohead berjudul Creep, sebagai berikut :

Spending my days
Painting dolphin freecoes
Bull-leaping naked
In the palace of Minos
And he has a labyrinth
With man-eating bull
They say it’s a death maze
Don’t trapped in the death maze!

And I’m from Crete
I’m Minoan
Famous thalassocracy
From 2000 BC

The palace Knossos
Has columns of red
And sometimes King Minos
Wears bull horn in his head
We worship a snake goddess
With interesting grap
Her skirt’s long and flouncy
But she has no top, you see

And I’m from Crete
I’m Minoan
Biggest isle in the Greek archipelago
Birthplace of “El Greco”

The Minotaur
The Minotaur needs a sacrifice

We made Europe’s first paved roads
And running water
Excavated by Evans
Sir Arthur Evans

And I’m from Crete
I’m Minoan
And our civilization’s gone
Destroyed by volcano
Destroyed by volcano

Dari lirik di atas dapat dipahami bahwa peradaban Minoa erat kaitannya dengan mitos legenda dari bangsa Yunani, yaitu Raja Minos.

Peta Benua Eropa
(http://www.stanley-livingstone.eu/media/wandkaart-europa-klett-politiek.jpg)
Coba anda perhatikan peta Eropa sekarang bagian tenggara dan selatan, anda akan berturut-turut melihat negara Yunani dan Italia. Di Yunani dan Italia inilah mata rantai perkembangan kebudayaan Yunani dan Romawi. Kebudayaan Yunani, Romawi dan pengaruh agama Kristen menjadi dasar peradaban Eropa sekarang.

Peta Peradaban Minoa di Pulau Kreta
(http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Minoa)
Sekarang khusus perhatikan Laut Aegea (baca: aigia), keempat tepinya berbatasan dengan pantai-pantai dari daratan, kepulauan dan pulau-pulau di tengah atau sekitarnya: Yunani sebelah utara dan barat, Pulau Kreta di sebelah selatan, dan Asia Kecil atau Asia Minor (sekarang termasuk Turki) di sebelah timur. Kreta adalah pulau berpegunungan dengan pelabuhan alami. 

Peradaban Aegea berlangsung selama sekitar 2000-1100 SM, berpusat di Pulau Kreta yang terletak di sebelah selatan Laut Aegea. Keadaan alam pulau ini beriklim sejuk sehingga cocok untuk pertanian. Laut melindungi dari invasi dan penjajahan bangsa asing. Letak Pulau Kreta sangat strategis, yaitu di tengah-tengah jalur pelayaran antara Mesir, Yunani, dan Mesopotamia. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Kreta untuk mengembangkan bidang pelayaran dan memperkuat armada lautnya. Selain itu, Pulau Kreta sebagai cultural bridge antara Asia, Afrika, dan Eropa.

Laut Aegea
Laut Aegea menjadi penghubung suatu peradaban kuno yang kaya. Bangsa dan peradaban ini hampir merupakan misteri bagi manusia modern sekarang, sampai ketika berhasil tersingkap berkat penemuan-penemuan orang-orang Inggris dan Jerman; Sir Arthur Evans dan Heinrich Schliemann pada abad ke-19.

Interior Istana Knossus, sisa-sisa peradaban Minoa
(http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Minoa)
Pada abad ke-19, Sir Arthur Evans melakukan ekskavasi di Knossus, Kreta tengah, beberapa mil dari pantai utara pulau ini. Di situs tersebut ditemukan reruntuhan istana yang berbentuk labirin[2] (rumah siput). Bangunan istana didesain sedemikian rupa agar seseorang yang masuk akan mudah tersesat karena susunan kamar-kamar, ruangan dan lorongnya ruit. Struktur ruangan yang rumit menghalangi para penjahat yang masuk istana. Selain itu, letaknya yang strategis tidak menutup kemungkinan Pulau Kreta menjadi incaran bangsa lain (Wachyudi Djaja, 2013: 4). Ekskavasi selanjutnya yang dilakukan oleh Evans dan arkeolog-arkeolog lainnya menemukan situs lebih dari 100 kota yang sudah ada atau muncul sebelum 1500 SM. Di samping itu juga ditemukan sejumlah besar keramik serta jalur-jalur jalan yang nampaknya sudah diperkeras. Penemuan ratusan lempengan dengan huruf Aegea. Sementara itu, tata politik atau tata pemerintahan di Minoa diperkirakan seperti halnya di Mesir, penguasanya adalah seorang raja-pendeta yang memerintah dengan sistem birokrasi sentral (Sugihardjo Sumobroto & Budiawan, 1989: 52).

Tidak diketahui dengan nama apa bangsa Minoa menyebut diri mereka sendiri. Istilah "Minoa" pertama kali diajukan oleh Arthur Evans berdasarkan tokoh mitos Raja Minos. Minos dikaitkan dengan Mitologi Yunani dengan labirin, yang diidentifikasi oleh Evans dengan suatu situs di Knossus. Seringkali dinyatakan bahwa sebuah nama tempat yang disebut oleh bangsa Mesir kuno dengan "Keftiu" (*Káftiu kftiw) dan oleh bangsa Semit "Kaftor" atau "Caphtor" dan "Kaptara" dalam arsip Mari, merujuk pada pulau Kreta. "Dalam beberapa hal beberapa pengetahuan mengenai Caphtor/Keftiu hanya bisa dikaitkan dengan Kreta,"  Dalam kisah Odiseus, yang disusun berabad-abad setelah kehancuran peradaban Minoa, Homer menyebut nama suku bangsa penghuni pulau Kreta dengan Eteokreta ("Kreta sejati"); kemungkinan mereka adalah keturunan bangsa Minoa.

Heinrich Schliemann telah menemukan kota kuno Troya (Ilium) di sudut barat laut Asia Kecil. Ia menemukan adegan dari illiad-nya Homerus[3]. Di Mycenae, di Yunani daratan, ia menemukan rumah Agamemnon, pemimpin pasukan Yunani dalam perang Troya, sebagaimana diceritakan dalam epik karya Homerus.

Fresko menampilkan tiga orang perempuan yang mungkin adalah Ratu
(http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Minoa)
Discovery of Minoan
Antara tahun 3000-1400 SM, Kreta yang menjadi pendukung peradaban Minoa itu tumbuh dan berkembang menjadi suatu imperium. Wilayah imperium ini tidak saja termasuk pulau-pulau di Laut Aegea, tetapi juga termasuk Yunani dan daratan Asia. Di antara kota-kota penting Kreta ialah Knossus, Phaistus, Gortyna, dan Gournia. Tanah yang kaya dengan pelabuhan-pelabuhan, serta hasil-hasil emas, perak, tembaga, timah hitam semuanya turut memberikan sumbangan bagi kejayaan peradaban Kreta. Lama sebelum bangsa Funisia, bangsa Kreta telah menjadi bangsa penjelajah lautan dan pedagang. Mereka berdagang dengan Mesir dan Syria, perdagangan keramik, tekstil, dan benda-benda logam lain. Dengan armada maritim yang kuat menunjang perdagangan laut mereka dan mengintervensi negeri-negeri disekitarnya untuk membayar upeti.

Uang Tembaga Minoa
(http://id.wikipedia.org/wiki/Peradaban_Minoa)